Minggu, 23 Oktober 2016

Cerpen Muslimah



Tak sekedar 24 Karat
oleh: Triyatun
Ampun dah… gak tau apa yang harus ku tulis, info lomba yang mepet, yah sekedarnya saja mau nulis, ya tepatnya dari LDF FOSI ngadaen lomba nulis cerpen, tema cerpennya tu “Akademikku, Organisasiku, Karna Jibabku,” oyaaaa?... emh… putar otak, putar badan, putar laptop, putar hape, dan akhirnya putar-putaran, Stoop…!!! Seperti ada syaraf yang sejenak merespon, cruing ahah,,, ada bola lampu ni di kepala, segera ku ambil bola lampu itu.
“Triyaaaa…..!!!, sudah jam berapa ini, ayok cepat bangun!!!” teriakan mak lampir itu memecah indahnya mimpiku, Triya, lebih lengkapnya Triyatun, itulah nama yang diberikan orang tua ku pada tanggal 13 bulan September bertahun-tahun yang silam. “Uugghh… mbak mak pak lampiiirrr…., tau gak, aku tu lagi mimpi mau dapet juara lomba taok… !!!,” sahut ku, “Bangun woi, jangan Cuma mimpi!.” Males sekali rasanya aku bangun, yah mataku yang masih merem melek, karena keasyikan menulis demi deadline, alhasil belum tertulis dan to be continue.
Kampusku, Universitasku. Aduh, males banget aku ketemu sama satu akhwat yang ini, akhwat lelet, suka telat, makan coklat, gigi berkarat, wow terlambat alasanya sholat,,, nduk aaiii, padek nian. “wai mbak…. barakAlloh ya mbak, mbak UTSnya paling besar, kata bapaknya yang paling besar 70, mbak dapat 70,…!!” ucapnya sembari menghampiri ku di bangku dekat GKB 1, segera ku raih lembar jawaban yang sedari tadi Ita pegang, dengan rasa penasaran dan semringah, betapa tidak, gue gitu dapat nilai terbesar, so pasti, ku perhatikan dengan seksama, dan… bak disengat lebah, kepalaku mulai besar, dan tiba-tiba kepalaku seperti terkena pentungan bedug, aduh sakit rasanya….uugh…sakitnya hatiku, marahnya diriku seperti boom atom yang siap meledak, dan akhirnya meledak juga, Duaaarr….. “70 apanya, lihat ni aku dapat 10, nilai terkecil diantara temen-temen, hiks” maki ku kepada Ita, “Afwan mbak..” jawabnya dengan gayanya yang sok tau bahasa arab. Ya kusadari itu, Ita yang penglihatanya sudah rabun seperti nenek-nenek, dan lupa pakai kaca mata, uugh sehingga melihat angka 1 bak angka 7, ditambah dengan tulisan dosen ala dokter tapi gak jadi. Akupun berlalu tanpa ucap.
Langkah ku tak pasti, ucap ku, sulit ku mengerti, aku duduk manis di danau Unib yang terletak di belakang GKB 1, tuk sekedar menunggu pukul 12.00 WIB. Seekor ikan terlihat menghiburku, dengan centilnya ia bolak balik menghampiri dan menjauh dariku dan mendekat lagi. “Hai, ikan, tau gak… kamu tu jelek, tapi sok padek, kamu tu kecil, tapi centil, sama si kayak aku, cantik tapi Oon, aku tak tau sampai kapan seperti ini, nilai pas-pasan, IPK 2 koma Alhamdulilah, ikan… apa karna aku bergaul dengan ukhti-ukhti dan akhi-akhi itu, sok sibuk ikut organisasi ini itu, dan bla bla bla, sehingga nilai ku jadi seperti ini?, mereka sering berbicara masalah dakwah, dakwah, dan dakwah, sok mementingkan masalah ummat, aduh kelihatan banget ya aku oon, bicara aja dengan ikan, uuggghh….!!.” tururung tung tururung tung, hape butut ku yang memanggil-manggil mengisyaratkan ada satu pesan masuk, ku lihat pada leyer hape, one message reseived, dari mbak Amel, ha pesan yang ku tunggu sedari tadi, dan isi pesan itu adalah, yak ya ya ya yahh… hape ku masuk ke danau karna aku tidak hati-hati, raib, the end dah. Bakalan percuma juga bila aku teriak tolong tolong, tolong  ambilkan hape butut ku, iyuwh ikan pun agaknya malas tuk menyentuhnya.
Ku redakan kekacauan, dan tiba saatnya pukul 12.00 WIB, UTS ku yang ke dua, aku duduk di posisi tengah dan paling depan, ujian pun dimulai, Prof. Yuwana terlihat sibuk membagi lembar kerja dan soal ujian, dan aku mendapat yang pertama. Hah.. soal macam apa ini… batin ku, apa yang bisa ku lakukan dengan semua soal ini, semuanya telah mendapatkan soal dan lembar jawaban, terlihat Prof. asyik mengerjakan entah apa dengan netbooknya, aku mulai memutar kepala 90 derajat ke arah kanan dan kiri, wah betapa luar biasa pemandangan ruang 11, posisi duduk menjadi penentu nilai sepertinya, apapun dilakukan, kopekan dijadikan al jimattu minal sukses, atau apalah istilah mereka. Dinding ini menjadi saksi atas apa yang kita lakukan, kursi ini, meja ini. “Eemhh…” Aku hanya mampu menghela napas, aku heran apa si yang dilakukan Prof. di depan meja sehingga  tidak melihat keadaan yang ada, atau memang tidak peduli, entah lah, yang jelas aku malu dengan keadaan ini. Segera ku selesaikan UTS ini dengan mengarang indah tanpa memikirkan hasil apa yang akan kudapat. Ya dan akhirnya selesai juga, tereng… segera aku meninggalkan tempat suram ini, hi,ii,i,i..
Akhirnya… aku keluar juga dari peradaban suram, ku silangkan tangan ku di atas pagar besi di depan ruang 11. Hape hilang, dompet kosong, perut kroncong-kroncong, hanya bisa bengong kayak sapi ompong. “Tria, sudah selesai UTSnya dek?,” suara yang tak asing lagi kudengar, ya dia mbak Amel, “Sudah Mbak,” jawab ku singkat dengan ku suguhkan senyum pahit. “Dek, nanti ikutan iftor ya, di shlter.” Lanjutnya “Wah ada iftor ya mbak,” suara yang entah darimana datang, suara Ita Mashita, “Diusahakan ya mbak, maaf mbak Tria duluan ya,” timpalku dan segera pergi meninggalkan mereka. Memang blakangan ini aku kurang akrab dengan Ita, tepatnya setelah pulang dari PKL, entah mengapa sulit sekali untuk memaafkan kesalahan orang diri ini.
Unib Belakang, terlihat ramai jalanan ini, hulu hilir mahasiswa beranjak pulang, ku lewati jalan trotoar ini, dengan penuh harapan masa depan, meski sang mentari hendak singgah menjemput petang, tetap ku lewati jalan ini, aiii alangkah lemaknya dapat minum sup buah di Asep Tea, pemandangan yang membosankan, hanya bisa melihat gambar sup buahnya saja, hiks, entah apa yang kupikirkan, aku teringat semua pesan mbak Amel bahwa, kita akan dapat melihat sifat teman kita dan sifat diri kita,  ketika kita berada jauh dari orang-orang yang biasa bersama. Dan benar adanya tepatnya setahun yang lalu ketika aku menjadi delagasi Agricultur Management Training di Medan, ternyata aku hanya orang yang cengeng dan egois, begitu juga teman-teman, itu lah mereka sesungguhnya, muncul pesan yang lainya, dengan gaya yang khas aku mampu mengingatnya, jika diri kita disibukkan dengan segudang aktivitas, yakin dech akan berimbas pada  nilai akademik kita, tentunya aktifitas yang positif yang memberikan manfaat, karena dengan sibuknya diri kita maka umur kita semakin produktif dan kita akan menjadi makhluk yang mampu menghargai waktu, memanaget waktu, tau waktu, jadi laporan gak tinggal, rapat jalan terus. Dan bagaimana itu terjadi aku juga tidak mengerti, kata-katanya bak penyihir yang mampu mempengaruhi pikiran ku, dan merasuk dalam urat nadi ku, terbukti semester lalu IPK ku meningkat ketika aku di amanahkan menjadi Co. Keputria di MGC, CO. bidang DIKLAT di P3M, Kesekretariatan di HIMATIN, yaaa walau tidak naik menjadi 4 koma bulet-bulet, namun IPK ku tidak istiqomah 2,5, he,e,eh..
Tak terasa pondokan Damitri ada di seberang mata, ku percepat langkah ini, sejenak ku sandarkan tubuh ini pada dinding kamar ku, tuk sekedar menghilangkan lelah dan penat karna seharian beraktifitas, teringat dengan ajakan mbak Amel untuk iftor, emh puasa aja kagak ikutan iftor, gerah terasa, emh… bauk acem, segera ku bersihkan badan ini. “Allohuakbar, Allohuakbar….” Alhamdulilah adzan magrib telah berkumandang, ku bentang sajadah dan menghadap kiblat, “Kaaaf ha  ya aaain shad, Dzikru rohmati robbika abdahu zakariiya, idz nadaa robbahu nidaan khafiiya….” Kulewati waktu menjemput isya dengan melantunkan ayat suci, dan usai juga hari ini segera ku tutup mata dan berdoa, dalam remang-remang terbesit ingatan yang selama ini ku lewati, dalam mengevaluasi hari ini, tak dapat ku pungkiri, sungguh bukan karna aku bergaul dengan ukhti-ukhti dan akhi-akhi nilaiku menjadi begini, namun aku mampu untuk bertahan dalam kejujuran, nilai akademik tak dapat diukur dari selembar kertas, dan kejujuran tak dapat dinilai hanya dengan A,B,C bahkan D atau E sekalian. Organisasiku tempat berkembangnya kemampuan berinteraksi dengan teman yang tidak sepemikiran dengan ku, namun mampu memberiku dampak positif, dan menjadikan diri ini bermanfaat untuk orang lain, disana lah ladang ku untuk mencari kebahagiaan dunia maupun akhirat, aku bangga berada disini satu atap dalam MGC dan menjadikan hijab (jilbab) sebagai pondasiku untuk berbuat. Aku malu jika harus membuat kopekan saat ujian, aku malu dengan jilbab yang menjulur menutupi tubuh ku, dan aku malu saat aku tak dapat bermanfaat, padahal Alloh memberikan kemanfaatan pada diriku. Sebagai wanita tak cukup jika hanya menjadi biasa-biasa, bahkan emas permata tak cukup untuk dijadikan ibarat, jika orang mengatakan wanita bak perhiasan terindah atau emas permata, namun aku adalah wanita tak sekedar 24 karat, jika lebih dari 24 karat, itu lah aku, aku berharap para wanita yang karat-an segera terwarnai dengan cat anti karat yang ada di Unib yaitu DULuX(Darul Ulum Lunturin Xesalahan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar