Ampun
dah… gak tau apa yang harus ku tulis, info lomba yang mepet, yah sekedarnya
saja mau nulis, ya tepatnya dari LDF FOSI ngadaen lomba nulis cerpen, tema
cerpennya tu “Akademikku, Organisasiku, Karna Jibabku,” oyaaaa?... emh… putar
otak, putar badan, putar laptop, putar hape, dan akhirnya putar-putaran,
Stoop…!!! Seperti ada syaraf yang sejenak merespon, cruing ahah,,, ada bola
lampu ni di kepala, segera ku ambil bola lampu itu.
“Triyaaaa…..!!!,
sudah jam berapa ini, ayok cepat bangun!!!” teriakan mak lampir itu memecah
indahnya mimpiku, Triya, lebih lengkapnya Triyatun, itulah nama yang diberikan
orang tua ku pada tanggal 13 bulan September bertahun-tahun yang silam.
“Uugghh… mbak mak pak lampiiirrr…., tau gak, aku tu lagi mimpi mau dapet juara
lomba taok… !!!,” sahut ku, “Bangun woi, jangan Cuma mimpi!.” Males sekali
rasanya aku bangun, yah mataku yang masih merem melek, karena keasyikan menulis
demi deadline, alhasil belum tertulis dan to be continue.
Kampusku,
Universitasku. Aduh, males banget aku ketemu sama satu akhwat yang ini, akhwat
lelet, suka telat, makan coklat, gigi berkarat, wow terlambat alasanya
sholat,,, nduk aaiii, padek nian. “wai mbak…. barakAlloh ya mbak, mbak UTSnya
paling besar, kata bapaknya yang paling besar 70, mbak dapat 70,…!!” ucapnya
sembari menghampiri ku di bangku dekat GKB 1, segera ku raih lembar jawaban yang
sedari tadi Ita pegang, dengan rasa penasaran dan semringah, betapa tidak, gue
gitu dapat nilai terbesar, so pasti, ku perhatikan dengan seksama, dan… bak
disengat lebah, kepalaku mulai besar, dan tiba-tiba kepalaku seperti terkena
pentungan bedug, aduh sakit rasanya….uugh…sakitnya hatiku, marahnya diriku
seperti boom atom yang siap meledak, dan akhirnya meledak juga, Duaaarr….. “70
apanya, lihat ni aku dapat 10, nilai terkecil diantara temen-temen, hiks” maki
ku kepada Ita, “Afwan mbak..” jawabnya dengan gayanya yang sok tau bahasa arab.
Ya kusadari itu, Ita yang penglihatanya sudah rabun seperti nenek-nenek, dan
lupa pakai kaca mata, uugh sehingga melihat angka 1 bak angka 7, ditambah
dengan tulisan dosen ala dokter tapi gak jadi. Akupun berlalu tanpa ucap.
Langkah
ku tak pasti, ucap ku, sulit ku mengerti, aku duduk manis di danau Unib yang
terletak di belakang GKB 1, tuk sekedar menunggu pukul 12.00 WIB. Seekor ikan
terlihat menghiburku, dengan centilnya ia bolak balik menghampiri dan menjauh
dariku dan mendekat lagi. “Hai, ikan, tau gak… kamu tu jelek, tapi sok padek,
kamu tu kecil, tapi centil, sama si kayak aku, cantik tapi Oon, aku tak tau
sampai kapan seperti ini, nilai pas-pasan, IPK 2 koma Alhamdulilah, ikan… apa
karna aku bergaul dengan ukhti-ukhti dan akhi-akhi itu, sok sibuk ikut
organisasi ini itu, dan bla bla bla, sehingga nilai ku jadi seperti ini?, mereka
sering berbicara masalah dakwah, dakwah, dan dakwah, sok mementingkan masalah
ummat, aduh kelihatan banget ya aku oon, bicara aja dengan ikan, uuggghh….!!.”
tururung tung tururung tung, hape butut ku yang memanggil-manggil
mengisyaratkan ada satu pesan masuk, ku lihat pada leyer hape, one message
reseived, dari mbak Amel, ha pesan yang ku tunggu sedari tadi, dan isi pesan
itu adalah, yak ya ya ya yahh… hape ku masuk ke danau karna aku tidak
hati-hati, raib, the end dah. Bakalan percuma juga bila aku teriak tolong
tolong, tolong ambilkan hape butut ku,
iyuwh ikan pun agaknya malas tuk menyentuhnya.
Ku
redakan kekacauan, dan tiba saatnya pukul 12.00 WIB, UTS ku yang ke dua, aku
duduk di posisi tengah dan paling depan, ujian pun dimulai, Prof. Yuwana
terlihat sibuk membagi lembar kerja dan soal ujian, dan aku mendapat yang
pertama. Hah.. soal macam apa ini… batin ku, apa yang bisa ku lakukan dengan
semua soal ini, semuanya telah mendapatkan soal dan lembar jawaban, terlihat
Prof. asyik mengerjakan entah apa dengan netbooknya, aku mulai memutar kepala
90 derajat ke arah kanan dan kiri, wah betapa luar biasa pemandangan ruang 11,
posisi duduk menjadi penentu nilai sepertinya, apapun dilakukan, kopekan
dijadikan al jimattu minal sukses, atau apalah istilah mereka. Dinding ini
menjadi saksi atas apa yang kita lakukan, kursi ini, meja ini. “Eemhh…” Aku
hanya mampu menghela napas, aku heran apa si yang dilakukan Prof. di depan meja
sehingga tidak melihat keadaan yang ada,
atau memang tidak peduli, entah lah, yang jelas aku malu dengan keadaan ini.
Segera ku selesaikan UTS ini dengan mengarang indah tanpa memikirkan hasil apa
yang akan kudapat. Ya dan akhirnya selesai juga, tereng… segera aku
meninggalkan tempat suram ini, hi,ii,i,i..
Akhirnya…
aku keluar juga dari peradaban suram, ku silangkan tangan ku di atas pagar besi
di depan ruang 11. Hape hilang, dompet kosong, perut kroncong-kroncong, hanya
bisa bengong kayak sapi ompong. “Tria, sudah selesai UTSnya dek?,” suara yang
tak asing lagi kudengar, ya dia mbak Amel, “Sudah Mbak,” jawab ku singkat
dengan ku suguhkan senyum pahit. “Dek, nanti ikutan iftor ya, di shlter.”
Lanjutnya “Wah ada iftor ya mbak,” suara yang entah darimana datang, suara Ita
Mashita, “Diusahakan ya mbak, maaf mbak Tria duluan ya,” timpalku dan segera
pergi meninggalkan mereka. Memang blakangan ini aku kurang akrab dengan Ita,
tepatnya setelah pulang dari PKL, entah mengapa sulit sekali untuk memaafkan kesalahan
orang diri ini.
Unib
Belakang, terlihat ramai jalanan ini, hulu hilir mahasiswa beranjak pulang, ku
lewati jalan trotoar ini, dengan penuh harapan masa depan, meski sang mentari
hendak singgah menjemput petang, tetap ku lewati jalan ini, aiii alangkah
lemaknya dapat minum sup buah di Asep Tea, pemandangan yang membosankan, hanya
bisa melihat gambar sup buahnya saja, hiks, entah apa yang kupikirkan, aku
teringat semua pesan mbak Amel bahwa, kita akan dapat melihat sifat teman kita
dan sifat diri kita, ketika kita berada
jauh dari orang-orang yang biasa bersama. Dan benar adanya tepatnya setahun
yang lalu ketika aku menjadi delagasi Agricultur Management Training di Medan,
ternyata aku hanya orang yang cengeng dan egois, begitu juga teman-teman, itu
lah mereka sesungguhnya, muncul pesan yang lainya, dengan gaya yang khas aku
mampu mengingatnya, jika diri kita disibukkan dengan segudang aktivitas, yakin
dech akan berimbas pada nilai akademik
kita, tentunya aktifitas yang positif yang memberikan manfaat, karena dengan
sibuknya diri kita maka umur kita semakin produktif dan kita akan menjadi
makhluk yang mampu menghargai waktu, memanaget waktu, tau waktu, jadi laporan
gak tinggal, rapat jalan terus. Dan bagaimana itu terjadi aku juga tidak mengerti,
kata-katanya bak penyihir yang mampu mempengaruhi pikiran ku, dan merasuk dalam
urat nadi ku, terbukti semester lalu IPK ku meningkat ketika aku di amanahkan
menjadi Co. Keputria di MGC, CO. bidang DIKLAT di P3M, Kesekretariatan di
HIMATIN, yaaa walau tidak naik menjadi 4 koma bulet-bulet, namun IPK ku tidak
istiqomah 2,5, he,e,eh..
Tak
terasa pondokan Damitri ada di seberang mata, ku percepat langkah ini, sejenak
ku sandarkan tubuh ini pada dinding kamar ku, tuk sekedar menghilangkan lelah
dan penat karna seharian beraktifitas, teringat dengan ajakan mbak Amel untuk
iftor, emh puasa aja kagak ikutan iftor, gerah terasa, emh… bauk acem, segera
ku bersihkan badan ini. “Allohuakbar, Allohuakbar….” Alhamdulilah adzan magrib
telah berkumandang, ku bentang sajadah dan menghadap kiblat, “Kaaaf ha ya aaain shad, Dzikru rohmati robbika abdahu
zakariiya, idz nadaa robbahu nidaan khafiiya….” Kulewati waktu menjemput isya
dengan melantunkan ayat suci, dan usai juga hari ini segera ku tutup mata dan
berdoa, dalam remang-remang terbesit ingatan yang selama ini ku lewati, dalam
mengevaluasi hari ini, tak dapat ku pungkiri, sungguh bukan karna aku bergaul
dengan ukhti-ukhti dan akhi-akhi nilaiku menjadi begini, namun aku mampu untuk
bertahan dalam kejujuran, nilai akademik tak dapat diukur dari selembar kertas,
dan kejujuran tak dapat dinilai hanya dengan A,B,C bahkan D atau E sekalian.
Organisasiku tempat berkembangnya kemampuan berinteraksi dengan teman yang
tidak sepemikiran dengan ku, namun mampu memberiku dampak positif, dan
menjadikan diri ini bermanfaat untuk orang lain, disana lah ladang ku untuk
mencari kebahagiaan dunia maupun akhirat, aku bangga berada disini satu atap
dalam MGC dan menjadikan hijab (jilbab) sebagai pondasiku untuk berbuat. Aku
malu jika harus membuat kopekan saat ujian, aku malu dengan jilbab yang
menjulur menutupi tubuh ku, dan aku malu saat aku tak dapat bermanfaat, padahal
Alloh memberikan kemanfaatan pada diriku. Sebagai wanita tak cukup jika hanya
menjadi biasa-biasa, bahkan emas permata tak cukup untuk dijadikan ibarat, jika
orang mengatakan wanita bak perhiasan terindah atau emas permata, namun aku
adalah wanita tak sekedar 24 karat, jika lebih dari 24 karat, itu lah aku, aku
berharap para wanita yang karat-an segera terwarnai dengan cat anti karat yang
ada di Unib yaitu DULuX(Darul Ulum Lunturin Xesalahan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar