Senin, 24 Oktober 2016

Laporan Leadership



 

Leadership 

oleh: Ummi Triya

Pagiku begitu ku nanti, meski mentari pagi engan bersinar dan tetap bersembunyi dirintik hujan, tak menyurutkan harapku, beat hijau yang sedari tadi menungguku siap untuk meluncur mengantarku berpetualang, agaknya tas yang ku bawa begitu berat, aku mencoba untuk merapikan lagi dan mengurangi barang bawaan. Alhasil, tetap saja berat dan penuh, lebih tepatnya penuh dengan makanan, yayaya... orang tua ku begitu mengkhawatirkan ku, padahal aku kan hanya pindah tidur 4 hari 3 malam saja.
Okay... packing telah selesai, seberat apapun kan ku pikul, sesekali aku membenarkan tas ini agar nyaman membawanya. Wooo... angin dan derasnya hujan menerpa badanku yang mungil ini ditambah mantel hujan yang howor-howor, he,e,e,e.
Mahira menyapa, disini aku akan memulai petualangan itu. Nah, terlihat truk SM sudah terparkir di halaman sekolah, begitu juga dengan teman-teman yang siap untuk mengikuti leadership. Ngomong-ngomong tentang leadership atau kebanyakan orang bilang latihan kepemimpinan, menjadi momok yang menakutkan, menyeramkan serta penuh penyiksaan, itu katanya... denger-dengernya, namun menurutku pelatihan leadership itu... er ha es. Oia, sebelum jauh kemana-mana singkat cerita ternyata truk SM tidak kita gunakan untuk pergi ke tujuan kita, nah loe... bakalan ngesot.
Pembagian kelompok ni, dan namaku tidak terdaftar dalam kelompok manapun, yah aku jadi anak buangan, kenapa namaku tidak terdaftar? Mungkin panita lelah. Akhirnya aku ikut kelompok ummi Masro, dengan teman-teman Kiky, Arni, Ade, Wiwin, dan Dinto.
Backpaker modal jempol sampai tujuan, itu yang bisa ku katakan kali ini, sungguh berat hati, ditambah berat bawaan, sungguh berat semua, kenapa harus kayak gini coba?, hanya panitia yang tahu. Seumur hidupku penuh fasilitas dari orang tua ku, dan kali ini... tak ada uang seratus rupiah pun, tak ada kendaraan, apa lagi handphon.
Dadaku serasa sempit, sesak rasanya, namun tetap ku tahan, kami susuri jalan keluar dari halaman SAB Mahira menuju ke simpang masjid, entah masjid apa namanya lupa aku, nah iya masjid itu yang di simpang Tebeng berhadapan dengan gereja. Hati ini tak henti-hentinya ngomel di sepanjang jalan terlebih ketika melihat kelompok lain sudah mendapat tumpangan, sebenarnya tujuan kita kemana?... males sekali aku membahasnya, pokoknya cepat sampai titik.
Akhirnya kami mendapatkan tumpangan juga, bersama kelompok ummi Multi, pic up dengan muatan kayu itu begitu sempit, sulit untuk bergerak, ah... yang penting bisa sampai, aku tak tau sampai mana mobil ini berhenti, ternyata hanya sekejap, dan kami harus menyambung lagi, mencari tumpangan lagi, sungguh penat hati ini. Aku hanya diam, tak ku pedulikan kelompok ku, entah bicara apa tak jelas, aku hanya mengikuti langkah mereka.
Mobil kedua, pic up dengan muatan semen. Ampun dah... debu woi, kotor, entah lah. Ku perhatikan raut muka teman-temanku satu persatu, tingkah mereka, sungguh hanya aku yang tidak ikhlas melakukan ini semua. Rintik hujan mulai membasahi bumi sekaligus mebasahi hati yang kesal ini, seharusnya aku bersyukur, lihat lah mereka begitu peduli dengan ku, membuang semua keegoisan mereka, dalam situasi seperti ini syariat tetap kita jalankan, tak ada jabat tangan untuk membantu naik ke atas pic up bagi laki-laki dan perempuan, tali tas itu membantu ku. Tak terasa air mata ini jatuh bersama rintik hujan yang kian deras. Uusstt... hanya aku yang tau. Segera ku usap air mata ini.
Mobil ketiga, sudah terasa ringan beban ini, cukup lumayan mobil yang kami tumpangi, melindungi kami saat hujan dan panas, hingga berakhir di mobil yang ke empat. Wew... aku tidak tau mobil apa itu namanya, namun aku sering melihat biasanya membawa motor, mobil yang itu lho, yang bertigkat, ada bagian bawah dan atasnya, mobil ini bermuatan besi reklame, sepertinya reklame sudah rusak, lumayan.
Akhirnya sampai juga ditujuan awal, ya... aku malas untuk menyebutkanya, sedikit eksis foto bareng polisi sebagai pelopor keselamatan, weleh... padahal mobil yang kami tumpangi tadi sudah melanggar peraturan untuk tidak melewati kawasan ini, hi,i,i,i.
Aku berfikir, mungkin ini lah pesan yang disampaikan pak Sukiman guru SMA ku dulu, bahwasanya kita harus senantiasa berbuat baik dan saling tolong menolong, namun jangan berharap untuk mendapat pertolongan dari orang yang kita tolong, bumi Alloh begitu luas, boleh jadi ketika kita berada di daerah orang, disana lah banyak orang yang menolong kita. Dan siapa yang menyangka jika kita bisa dapat tumpangan, padahal kita sama sekali tidak mengenal sopir tersebut.
Modal jempol sampai tujuan, kelompok kami menjadi kelompok ke tiga yang sampai di pesantren, iya pesantren itu yang ada di kampung Delima, dan ini lah mulai laporan ku.
***
Senin, 21 Desember 2015
Malam ini pertemuan sekaligus perkenalan dengan pimpinan pondok pesantren, belum ada hal yang wah sih. Taram...  Materi yang menyenangkan pun mulai bermunculan mengenai ruh dari sekolah alam itu sendiri, sesekali aku terbayang dengan tulisan yang ku berikan dengan pak Hardi, wah bener-bener salah pemahamanku tentang sekolah alam. #Tepok jidat
Ada suara yang membuatku dan ummi Ami terpingkal-pingkal, dengkuran ummi bla bla bla dengan birama yang penuh intonasi, membuat kami tak pacak tiduk.


Selasa, 22 Desember 2015
Diawali dengan sholat tahajud berjamaah, sarapan, mak Wiwin adalah alarm makan kami, yang senantiasa mengingatkan kita untuk masak nasi, jangan sampai tidak makan nasi, usai sarpan dilanjutkan dengan sholat dhuha, iya donk, meski sulit air kita tetap menjalankan sunah. Nah, lanjut materi tentang pilihan hidup gitu lah, mengenak banget rasanya, sepertinya aku kecebur dalam kebaikan. Ikan cucut bau kecut, lanjut, menyusul materi ke tiga, Belajar  “GasiNg” Gampang Asyik meNyenagkan, bagaimana cara menciptakan suasana yang menyenangkan sampai menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Rabu, 23 Desember 2015
Semakin menggebu dengan materi “Filsafat Sekolah Alam”. Dengan tujuan menciptakan Khalifatullah Fil Ard yang rahmatan lil alamin kurang lebih begini artinya, menjadi pribadi yang siap mengemban amanah Allah dalam mengelola bumi. Bertambah geregetan aku dengan Sekolah Alam. Nah, ini ni yang masuk ujian pelatihan leadership tentang “Konsep Sekolah Alam” begini ni isi kurikulumnya; Akhlak dan leadership, bakat dan softskill, seni dan kreatifitas, lingkungan dan konservasi, serta logika dan akademik, bukan kah begitu Ummi Nanda?... ^_^
Sebenara banyak materi lain yang tidak  tersebutkan, seperti siapa itu guru, bagaimana belajar dengan alam, aku dan bintang terangku, karakter guru sekolah alam, sikap bijak, jenjang guru, guru profesional, terus buat media juga, kami kebagian membuat panah, de el el. Akhirnya kami disuruh bobok lebih awal, karena persiapan besok pulang, katanyaaa.... pasti ada kejutan.
Kamis, 24 Desember 2015
Mencegangkan, mengerikan, dag dig dug....
Entah pukul berapa kami dibangunkan, dingin, dan rintik gerimis mulai membasahi bumi. Persiapan mantel, pena, matras, pluit dan senter sudah di tangan, yup hendak kemana kita?... intruksinya belok kiri belok kanan.
Tiba giliran ku, dengan PD aku melangkah menyusuri jalan dengan kode tanda panah. Ahhh ... sudah terlalu larut malam, aku takut menulisnya dan membayangkan keadaan itu.
Singkat laporan kami sampai juga di SAB Mahira kembali, mencoba menyusun kepingan cerita-cerita baru, ilmu yang belum aku dapatkan, kelompok yang super kompak walau lelet, dan kembali siap menghidupkan konsep Sekolah Alam. Dengan ide yang bergelantungan. Nah, aku berharap leadership tahun depan backpaker dengan tujuan lebih jauh lagi, oia... selama ledearship sepertinya ada yang tertinggal, tentang lagu sekolah alam yang sampai saat ini aku belum tahu jelas liriknya.
Okay cukup sekian laporan ini aku buat, meski terlihat tidak istimewa namun menjadi cerita seru tersendiri bagi ku, terimakasih teman-teman yang begitu unik sifatmu, ummi Ami cengeng, tapi aku tetap sayang kamu. Tetap menjadi dirimu yang cengeng ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar