Leadership
oleh: Ummi Triya
Pagiku
begitu ku nanti, meski mentari pagi engan bersinar dan tetap bersembunyi
dirintik hujan, tak menyurutkan harapku, beat
hijau yang sedari tadi menungguku siap untuk meluncur mengantarku berpetualang,
agaknya tas yang ku bawa begitu berat, aku mencoba untuk merapikan lagi dan
mengurangi barang bawaan. Alhasil, tetap saja berat dan penuh, lebih tepatnya
penuh dengan makanan, yayaya... orang tua ku begitu mengkhawatirkan ku, padahal
aku kan hanya pindah tidur 4 hari 3 malam saja.
Okay...
packing telah selesai, seberat apapun
kan ku pikul, sesekali aku membenarkan tas ini agar nyaman membawanya. Wooo...
angin dan derasnya hujan menerpa badanku yang mungil ini ditambah mantel hujan
yang howor-howor, he,e,e,e.
Mahira
menyapa, disini aku akan memulai petualangan itu. Nah, terlihat truk SM sudah
terparkir di halaman sekolah, begitu juga dengan teman-teman yang siap untuk
mengikuti leadership. Ngomong-ngomong
tentang leadership atau kebanyakan
orang bilang latihan kepemimpinan, menjadi momok yang menakutkan, menyeramkan
serta penuh penyiksaan, itu katanya... denger-dengernya, namun menurutku
pelatihan leadership itu... er ha es. Oia, sebelum jauh kemana-mana singkat
cerita ternyata truk SM tidak kita gunakan untuk pergi ke tujuan kita, nah
loe... bakalan ngesot.
Pembagian
kelompok ni, dan namaku tidak terdaftar dalam kelompok manapun, yah aku jadi
anak buangan, kenapa namaku tidak terdaftar? Mungkin panita lelah. Akhirnya aku
ikut kelompok ummi Masro, dengan teman-teman Kiky, Arni, Ade, Wiwin, dan Dinto.
Backpaker
modal jempol sampai tujuan, itu yang bisa ku katakan kali ini, sungguh berat
hati, ditambah berat bawaan, sungguh berat semua, kenapa harus kayak gini
coba?, hanya panitia yang tahu. Seumur hidupku penuh fasilitas dari orang tua
ku, dan kali ini... tak ada uang seratus rupiah pun, tak ada kendaraan, apa
lagi handphon.
Dadaku
serasa sempit, sesak rasanya, namun tetap ku tahan, kami susuri jalan keluar
dari halaman SAB Mahira menuju ke simpang masjid, entah masjid apa namanya lupa
aku, nah iya masjid itu yang di simpang Tebeng berhadapan dengan gereja. Hati
ini tak henti-hentinya ngomel di sepanjang jalan terlebih ketika melihat
kelompok lain sudah mendapat tumpangan, sebenarnya tujuan kita kemana?... males
sekali aku membahasnya, pokoknya cepat sampai titik.
Akhirnya
kami mendapatkan tumpangan juga, bersama kelompok ummi Multi, pic up dengan muatan kayu itu begitu
sempit, sulit untuk bergerak, ah... yang penting bisa sampai, aku tak tau
sampai mana mobil ini berhenti, ternyata hanya sekejap, dan kami harus
menyambung lagi, mencari tumpangan lagi, sungguh penat hati ini. Aku hanya
diam, tak ku pedulikan kelompok ku, entah bicara apa tak jelas, aku hanya
mengikuti langkah mereka.
Mobil
kedua, pic up dengan muatan semen.
Ampun dah... debu woi, kotor, entah lah. Ku perhatikan raut muka teman-temanku
satu persatu, tingkah mereka, sungguh hanya aku yang tidak ikhlas melakukan ini
semua. Rintik hujan mulai membasahi bumi sekaligus mebasahi hati yang kesal
ini, seharusnya aku bersyukur, lihat lah mereka begitu peduli dengan ku,
membuang semua keegoisan mereka, dalam situasi seperti ini syariat tetap kita
jalankan, tak ada jabat tangan untuk membantu naik ke atas pic up bagi laki-laki dan perempuan, tali tas itu membantu ku. Tak
terasa air mata ini jatuh bersama rintik hujan yang kian deras. Uusstt... hanya
aku yang tau. Segera ku usap air mata ini.
Mobil
ketiga, sudah terasa ringan beban ini, cukup lumayan mobil yang kami tumpangi,
melindungi kami saat hujan dan panas, hingga berakhir di mobil yang ke empat.
Wew... aku tidak tau mobil apa itu namanya, namun aku sering melihat biasanya
membawa motor, mobil yang itu lho, yang bertigkat, ada bagian bawah dan
atasnya, mobil ini bermuatan besi reklame, sepertinya reklame sudah rusak,
lumayan.
Akhirnya
sampai juga ditujuan awal, ya... aku malas untuk menyebutkanya, sedikit eksis
foto bareng polisi sebagai pelopor keselamatan, weleh... padahal mobil yang
kami tumpangi tadi sudah melanggar peraturan untuk tidak melewati kawasan ini,
hi,i,i,i.
Aku
berfikir, mungkin ini lah pesan yang disampaikan pak Sukiman guru SMA ku dulu,
bahwasanya kita harus senantiasa berbuat baik dan saling tolong menolong, namun
jangan berharap untuk mendapat pertolongan dari orang yang kita tolong, bumi
Alloh begitu luas, boleh jadi ketika kita berada di daerah orang, disana lah
banyak orang yang menolong kita. Dan siapa yang menyangka jika kita bisa dapat
tumpangan, padahal kita sama sekali tidak mengenal sopir tersebut.
Modal
jempol sampai tujuan, kelompok kami menjadi kelompok ke tiga yang sampai di
pesantren, iya pesantren itu yang ada di kampung Delima, dan ini lah mulai
laporan ku.
***
Senin,
21 Desember 2015
Malam
ini pertemuan sekaligus perkenalan dengan pimpinan pondok pesantren, belum ada
hal yang wah sih. Taram... Materi yang
menyenangkan pun mulai bermunculan mengenai ruh dari sekolah alam itu sendiri,
sesekali aku terbayang dengan tulisan yang ku berikan dengan pak Hardi, wah
bener-bener salah pemahamanku tentang sekolah alam. #Tepok jidat
Ada
suara yang membuatku dan ummi Ami terpingkal-pingkal, dengkuran ummi bla bla
bla dengan birama yang penuh intonasi, membuat kami tak pacak tiduk.
Selasa,
22 Desember 2015
Diawali
dengan sholat tahajud berjamaah, sarapan, mak Wiwin adalah alarm makan kami,
yang senantiasa mengingatkan kita untuk masak nasi, jangan sampai tidak makan
nasi, usai sarpan dilanjutkan dengan sholat dhuha, iya donk, meski sulit air kita
tetap menjalankan sunah. Nah, lanjut materi tentang pilihan hidup gitu lah,
mengenak banget rasanya, sepertinya aku kecebur dalam kebaikan. Ikan cucut bau
kecut, lanjut, menyusul materi ke tiga, Belajar “GasiNg” Gampang Asyik meNyenagkan, bagaimana
cara menciptakan suasana yang menyenangkan sampai menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan.
Rabu,
23 Desember 2015
Semakin
menggebu dengan materi “Filsafat Sekolah Alam”. Dengan tujuan menciptakan
Khalifatullah Fil Ard yang rahmatan lil alamin kurang lebih begini artinya,
menjadi pribadi yang siap mengemban amanah Allah dalam mengelola bumi. Bertambah
geregetan aku dengan Sekolah Alam. Nah, ini ni yang masuk ujian pelatihan
leadership tentang “Konsep Sekolah Alam” begini ni isi kurikulumnya; Akhlak dan
leadership, bakat dan softskill, seni dan kreatifitas, lingkungan dan
konservasi, serta logika dan akademik, bukan kah begitu Ummi Nanda?... ^_^
Sebenara
banyak materi lain yang tidak
tersebutkan, seperti siapa itu guru, bagaimana belajar dengan alam, aku
dan bintang terangku, karakter guru sekolah alam, sikap bijak, jenjang guru,
guru profesional, terus buat media juga, kami kebagian membuat panah, de el el.
Akhirnya kami disuruh bobok lebih awal, karena persiapan besok pulang,
katanyaaa.... pasti ada kejutan.
Kamis,
24 Desember 2015
Mencegangkan,
mengerikan, dag dig dug....
Entah
pukul berapa kami dibangunkan, dingin, dan rintik gerimis mulai membasahi bumi.
Persiapan mantel, pena, matras, pluit dan senter sudah di tangan, yup hendak
kemana kita?... intruksinya belok kiri belok kanan.
Tiba
giliran ku, dengan PD aku melangkah menyusuri jalan dengan kode tanda panah.
Ahhh ... sudah terlalu larut malam, aku takut menulisnya dan membayangkan
keadaan itu.
Singkat
laporan kami sampai juga di SAB Mahira kembali, mencoba menyusun kepingan
cerita-cerita baru, ilmu yang belum aku dapatkan, kelompok yang super kompak
walau lelet, dan kembali siap menghidupkan konsep Sekolah Alam. Dengan ide yang
bergelantungan. Nah, aku berharap leadership tahun depan backpaker dengan tujuan lebih jauh lagi, oia... selama ledearship sepertinya ada yang
tertinggal, tentang lagu sekolah alam yang sampai saat ini aku belum tahu jelas
liriknya.
Okay
cukup sekian laporan ini aku buat, meski terlihat tidak istimewa namun menjadi
cerita seru tersendiri bagi ku, terimakasih teman-teman yang begitu unik
sifatmu, ummi Ami cengeng, tapi aku tetap sayang kamu. Tetap menjadi dirimu
yang cengeng ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar